www.hajiakbar.com


PERJALANAN MELELAHKAN YANG PENUH KEINDAHAN

oleh  H. Akbar

Ibadah haji adalah ibadah yang memerlukan kekuatan fisik. Meskipun bukan merupakan jaminan, jemaah haji yang mempunyai kekuatan fisik akan lebih berpeluang untuk melakukan ibadah dengan baik. Lebih banyak ibadah yang dilakukan akan lebih banyak pula pengalaman yang dikumpulkan. Dalam melaksanakan aktifitas ibadah setiap jemaah haji pasti mempunyai pengalaman pribadi. Dari sekian banyak jemaah haji yang aktif beribadah umumnya mereka selalu mengungkapkan kesan yang sama. ‘Ibadah haji adalah ibadah yang melelahkan’. Berikut adalah bagian dari pengalaman penulis ketika berhaji tahun 2003.

Setiap jemaah haji secara jujur akan merasakan bahwa pelaksanaan ibadah haji memang melelahkan. Tetapi harus diartikan bahwa kata melelahkan bukan hasil dari ibadah haji. Melelahkan adalah bagian dari hasil proses fisik secara alami. Siapapun yang melakukan pekerjaan yang melibatkan kerja fisik pasti akan mengalami hal yang sama, yakni lelah. Tapi di balik pekerjaan yang melelahkan itu pasti ada hasil yang dicapai. Hasil yang dicapai oleh seorang jemaah haji semuanya bergantung kepada niatnya masing-masing.

Seluruh proses ibadah haji, baik yang termasuk ke dalam kategori rukun, wajib, maupun sunat haji semuanya memerlukan ketahanan fisik. Anehnya setiap bagian dari kegiatan haji yang dilakukan, meskipun terasa adanya kelelahan jemaah haji pasti merasakan selalu berakhir dengan keindahan. Ada kepuasan batin yang dirasakan setiap selesai melakukan aktifitas ibadah haji.

Rasa lelah setelah thawaf di tengah jutaan umat manusia, dilanjutkan dengan sa’i dan tahllul di tengah malam yang dingin terkadang memakan waktu sampai beberapa jam, menjadi tidak terasa setelah kami merasakan ni’matnya meneteskan air mata di bukit Marwah sambil memandang ka’bah yang agung, disertai bibir yang gemetar, lisanpun berucap, ‘Ilahi, Anta Maqshudi. Wa Ridhoka Mathlubi. A’thini Mahabbataka Wa Ma’rifataka. Tuhanku, hanya Engkau yang kutuju, dan hanya ridho-Mu yang kucari. Berikan kemampuan kepadaku untuk senantiasa bisa mencintai dan mengenalimu’.

Ni’matnya mengumandangkan kalimat talbiyah sepanjang perjalanan dari Arafah ke Muzdalifah, telah mampu mengusir rasa lelah dan dinginnya angin gurun. Dan lelahnya berhimpitan di tengah lautan manusia di Mina tidak terasa setelah kami mampu melemparkan kerikil tepat di Jumratul-Aqabah yang menjadi lambang keangkuhan dan kesombongan syetan la’natullah.

Demikian pula di Madinah. Ni’matnya bisa duduk di Roudloh sambil berdoa dengan cucuran air mata tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, meskipun kami harus berjuang berdesakan dengan bangsa lain yang postur tubuhnya jauh lebih besar dari kami, yang secara logika tidak mungkin bisa kami melakukannya.

Bahkan di luar paket ibadah haji sekalipun, rasa lelah tidak menyurutkan kami untuk napak tilas Kekasih Agung Rasulullah SAW. Meskipun tidak semua peninggalan Rasul dapat kami kunjungi, namun bisa mendatangi tempat kelahiran Rasul, tempat kediaman Siti Khodijah, rumah tempat Umar bin Khattab mengucapkan dua kalimah syahadat, Gua Hira, Gua Tsur, Jabal Rahmah, Tan’im, Ji’ranah, Masjid Al-Ghomamah, Pemakaman Baqi’ dan Ma’la semuanya melelahkan. Tetapi di balik lelah itu jelas merupakan kebanggan tersendiri bagi kami. Dan ternyata lelah tidak mampu menghalanginya.

Kami merasakan ni’mat dan indahnya ibadah haji meskipun dengan persiapan dan kemampuan yang terbatas. Artinya, kalau persiapan kami lebih baik, maka hasilnya pun akan lebih baik lagi. Idealnya, kalau kita ingin memperoleh nilai haji yang baik, maka persiapan merupakan satu kebutuhan yang tidak boleh diabaikan. Melihat kenyataan di lapangan, kami melihat dan merasakan minimnya jemaah haji dalam persiapan sehingga timbul kesan ibadah haji dilakukan asal jadi. Menurut hemat kami, agar perjalanan haji membawa manfaat yang sebesar-besarnya bagi orang yang melakukannya, kiranya setiap jemaah haji perlu :

1. Menguasai manasik haji, yaitu prosesi ibadah haji sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Yang dimaksud dengan manasik tentu berbentuk pola yang dicontohkan oleh rasulullah SAW, baik yang menyangkut aqidah, perbuatan, maupun ucapan. Manasik bukan hanya hafal doa thawaf dan sa’i, tetapi lebih dari itu menguasai proses ibadah yang sebenarnya. Akibat tidak menguasai manasik haji kami sering menyaksikan beberapa hal yang sebenarnya tidak perlu terjadi, seperti thawaf melalui Hijir Ismail, meratap sambil mengusap dinding ka’bah, melontar jumrah dengan sandal dan lain sebagainya.

2. Mempelajari sejarah. Dengan mempelajari sejarah kita bisa mengetahui latar belakang sesuatu yang kita kerjakan, sehingga pada saat kita melakukan satu jenis ibadah kita akan lebih menghayatinya. Sebagai salah satu contoh adalah betapa banyaknya kita menyaksikan orang berkulit hitam berdoa di Hijir Ismail sambil menangis. Mereka melakukan itu karena mereka mengerti sejarah. Mereka menyadari bahwa Hijir Ismail dulunya tempat kediaman Nabi Ismail dan ibunya, Siti Hajar, seorang perempuan budak miskin berkulit hitam asal Ethiopia, yang dinikahi Nabi Ibrahim AS atas saran isterinya, Siti Syarah. Mereka bisa histeris karena merasakan bahwa di sisi Allah SWT derajat manusia adalah sama. Seorang budak berkulit hitam pun bisa mencapai kedudukan terhormat kalau memiliki taqwa yang baik. Di luar prosesi ibadah haji kita juga bisa melihat ribuan, bahkan ratusan ribu umat Islam meneteskan air mata ketika mereka menziarahi pekuburan syuhada Uhud. Mereka bisa menangis karena mereka mengerti sejarah. Betapa umat Islam nyaris kehilangan pemimpin agung, Rasulullah SAW saat umat Islam diporakporandakan pada perang Uhud. Dan masih banyak lagi contoh yang lain.

3. Membekali diri dengan pengetahuan tentang Mekah dan Madinah serta tempat-tempat lain di sekitarnya. Pesatnya perkembangan pembangunan di kedua kota tersebut akan membuat jemaah menjadi bingung. Jangankan orang yang baru pertama kali menunaikan ibadah haji, para pembimbing haji pun banyak yang tersesat. Kenyataan ini juga diakui oleh mereka. Jadi tersesatnya jemaah haji di tanah suci merupakan sesuatu yang wajar. Malah di dalam Masjidil Haram sekalipun banyak jemaah yang keliru pintu kalau akan keluar. Kondisi diperparah dengan sifat enggan bertanya sehingga banyak kejadian di tanah suci dipandang dari sisi negatifnya. Umumnya jemaah haji suka terkena sugesti. Kalau mengalami sesuatu yang bersifat negatif kemudian cepat berkesimpulan bahwa hal itu gambaran amalnya waktu masih di kampung halamannya, sehingga akibat dari sugesti itu banyak jemaah yang memandang bahwa ibadah haji adalah satu kewajiban yang menakutkan.

4. Menguasai bahasa asing, terutama bahasa Arab dan Inggris. Kita perlu menyadari bahwa bahasa merupakan alat komunikasi yang paling efektif. Kalau kita tidak menguasainya kita akan kehilangan peluang. Kami sering menyaksikan di Masjidil Haram, bahwa pada setiap selesai sholat fardhu terdapat sejumlah jemaah yang berkumpul. Ternyata mereka sedang mengadakan ta’lim. Bahasa pengantar yang paling populer mereka gunakan adalah bahasa Arab dan Inggris. Kalau kita menguasai kedua bahasa tersebut kita bisa mengambil banyak manfaat dari kegiatan tersebut. Bahkan untuk berbelanja di pasar sekalipun banyak jemaah yang tidak menemukan barang yang diperlukannya karena tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Belum lagi kalau kita bersilaturahmi dengan jemaah bangsa lain.

Alhasil, keempat komponen di atas adalah sesuatu yang mutlak diperlukan oleh setiap jemaah haji kalau ingin mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dalam perjalanan ibadah haji. Dan mempersiapkan keempat komponen tadi tidak cukup dipelajari hanya dalam jangka waktu satu atau dua minggu. Akan lebih baik kalau ada satu institusi yang mengkaji secara khusus masalah haji yang dilakukan secara komprehensif, dan setiap jemaah yang sudah menentukan akan berhaji perlu merasa berkepentingan dengan kajian tersebut.

Itulah sekedar pengalaman pribadi kami dalam melaksanakan ibadah haji tahun 1423 H atau 2003 M yang dapat kami ungkapkan. Di balik yang kami ungkapkan ini masih terdapat sejumlah kenangan pengalaman yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Pengalaman pribadi ini kami persembahkan kepada seluruh kaum muslimin yang merasa berkepentingan dengan ibadah haji. Gapailah derajat haji mabrur dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Ibadah haji adalah kewajiban umat Islam sekali dalam seumur hidup. Kalau kita tidak melakukannya dengan baik, kita belum tentu dapat mengulanginya pada tahun-tahun berikutnya.

Kami menyadari, dalam menuliskan pengalaman pribadi ini tentu tidak terlepas dari keterbatasan kemampuan. Jika ternyata di dalamnya ditemukan adanya kekeliruan kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, dan dari lubuk hati yang paling dalam kami memohon keikhlasan kaum muslimin untuk mengoreksinya.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: