www.hajiakbar.com


MINA BAGAIKAN RAHIM YANG SEDANG HAMIL

oleh H. Akbar

Mina adalah sebuah hamparan padang pasir yang panjangnya sekitar 3,5 km, terletak di kawasan berbukit-bukit antara kota Mekah dan Muzdalifah. Dewasa ini dengan adanya pertumbuhan penduduk dan perluasan kota, kedua kota Mina dan Mekah hampir bersambung. Kota Mina dapat ditempuh melalui 9 buah jalur mulus, namun pada saat musim haji jalan ini menjadi sangat padat.

Oleh orang-orang Arab, Mina disebut dengan nama Muna yang berarti pengharapan. Menurut riwayat, di Mina inilah hati Nabi Adam AS dibisiki bahwa dia memperoleh harapan, setelah 200 tahun berpisah akan bertemu dengan isterinya, Siti Hawa. Dan dengan izin Allah SWT, beberapa hari kemudian Nabi Adam AS memang benar-benar bertemu dengan Siti Hawa yaitu di Jabal Rahmah, sebuah bukit kecil di sekitar Padang Arafah.

Mina adalah bagian dari tanah haram Mekah yang dikunjungi selama 3 – 4 hari oleh seluruh jemaah haji pada tanggal 8 Dzulhijjah. Mereka tinggal di sini untuk mabit sehari semalam penuh sehingga dapat melakukan sholat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh. Setelah sholat Shubuh tanggal 9 Dzulhijjah mereka berangkat ke Arafah untuk wuquf siang hari dan malamnya kembali ke Mina dan tinggal di sini sampai dengan tanggal 12 atau 13 Dzulhijah. Agar mendapat tempat yang paling dekat untuk melontar jumrah, maka bermalam di Mina merupakan keharusan bagi jemaah haji. Dua malam ini (mabit dan melontar) termasuk wajib haji.

Kalau diartikan secara harfiyah, Mina sebenarnya berarti tempat ‘tumpah darah binatang’ yang disembelih. Ini sesuai dengan keadaan yang berlaku bahwa di daerah ini setiap tahun disembelih sekitar satu juta qurban yang terdiri dari unta, sapi, domba dan kambing. Maka kawasan 7 km di sebelah timur Masjidil Haram ini diberi nama Mina. Pada hari-hari biasa Mina tidak berpenduduk walaupun banyak bangunan permanen. Namun pada setiap tanggal 10 Dzulhijah dan beberapa hari sebelum dan sesudahnya bangunan berupa tenda penginapan itu pasti dipadati tidak kurang dari dua juta jemaah.

Berhubung lokasi tersebut merupakan kawasan yang diperuntukkan khusus untuk salah satu tempat pelaksanaan ibadah haji, maka daerah ini diharamkan untuk dimiliki oleh perorangan, seperti diutarakan oleh Aisyah, ‘Ya Rasulallah, perlukah kami buatkan rumah di Mina untuk Anda berteduh ?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Jangan ! Sesungguhnya Mina adalah tempat duduk orang yang lebih dulu datang’.

Di Mina terdapat beberapa tempat penting, yaitu :

1. Jamarat, yaitu lokasi dimana terdapat ke tiga jumrah, Ula, Wustha dan Aqabah.

Pada musim haji tahun 2005 bentuk jamarat sudah dirubah yang semula berbentuk tiang menjadi berbentuk dinding selebar 21 meter. Dan pada tahun 1427 (akhir 2006) jamarat dirubah lagi menjadi berbentuk plaza yang direncanakan akan berlantai 7.

2. Al-Manhar (Jabal Qurban), yaitu lokasi penyembelihan binatang.

3. Masjid Al-Khaif, yaitu lokasi Nabi Muhammad SAW melakukan sholat dan khutbah ketika berada di Mina sewaktu berhaji.

4. Masjid Al-Bai’ah, yaitu tempat Rasulullah SAW dibai’at oleh orang-orang Anshar yang dating dari Madinah 1 tahun sebelum hijrah.

Mina mempunyai keistimewaan. Keistimewaan yang akan dirasakan oleh setiap jemaah haji tentang kemampuannya menampung tidak kurang dari dua juta orang yang tumplek ke sini menjelang tanggal 10 Dzulhijah untuk melontar jumrah esok harinya. Keistimewaan atau lebih tepat disebut keajaibannya adalah kemampuannya untuk menampung seluruh umat yang hadir itu. Ajaib, karena selalu menjadi lebih luas secara otomatis sebagaimana layaknya rahim seorang ibu hamil. Hal ini dijamin dan disabdakan oleh Rasulullah SAW, ‘Sesungguhnya Mina itu seperti rahim, yang mana ketika terjadi kehamilan, diluaskan oleh Allah SWT’. Kita tidak perlu hawatir kehabisan atau tidak mendapat tempat di Mina pada waktu haji.

Batu kerikil yang dilempar oleh jemaah sewaktu melempar jumrah, secara ajaib pula diangkat oleh malaikat ke langit seolah-olah seperti ‘kerikil terbang’. Kerikil yang terbang itu tentu yang dilontar oleh para jemaah yang hajinya diterima oleh Allah SWT. Dan batu yang dilontar oleh mereka yang hajinya tidak diterima dibiarkan menetap di sekitar jumrah yang akhirnya dibersihkan oleh buldoser. Tentang hal ini, Abdullah Ibn Umar, salah seorang sahabat Nabi yang sangat alim mengatakan, ‘Demi Allah, sesungguhnya Allah SWT mengangkat ke langit batu yang dilontarkan ke jumrah yang hajinya diterima oleh-Nya’.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: