www.hajiakbar.com


ESENSI IHRAM

oleh : H. Akbar

Ihram merupakan niat untuk melaksanakan haji dan/umroh. Dengan mengenakan ihram, maka yang bersangkutan memasuki saat berlakunya larangan haji. Ihram dilakukan dengan melafazkan niat. Secara umum niat itu dapat berupa bahwa ia telah berniat melaksanakan ibadah haji, dan untuk itu pula berihram dengan ikhlas karena Allah semata.

Calon jemaah haji yang sudah mengenakan ihram dikenai larangan sampai yang bersangkutan melakukan tahallul (potong rambut) usai tawaf dan sa`i. Apa saja larangan tersebut. Biasanya bagi calon jemaah haji larangan tersebut sudah disosialisasikan sebelum bertolak ke tanah suci, seperti: pakaian berjahit, menutup kepala bagi lelaki. Dan menutup muka dan telapak tangan bagi wanita, tak dibenarkan memakai wangi-wangian, memakai pacar, makan atau minum yang mengandung wangi-wangian, tak boleh memakai minyak rambut atau badan, memotong rambut/kuku. Dengan berihram itu berarti calon haji sudah harus membuang jauh-jauh segala macam perbedaan, keangkuhan. Bahkan, bagi pejabat dari tanah air sudah harus melepaskan status sosialnya. Ihram menggambarkan bahwa seseorang di hadapan Allah sama. Yang membedakan manusia satu dan lainnya hanya ketakwaannya.

Dalam kontek urusan duniawi, pakaian keram kali dijadikan simbol perbedaan dan menggambarkan status sosialnya. Sementara dalam urusan ibadah haji, seorang tidak boleh melekatkan simbol status sosial. Apa lagi berupa kesombongan. Lagi pula saat menunaikan haji itu, manusia tidak boleh memiliki kesibukan lain kecuali kesibukan dalam rangka mencari ridho Allah SWT.

Sejatinya ihram adalah simbol persamaan derajat manusia saat menghadap Allah SWT. Dalam Islam, pakaian seperti itulah yang dikenakan bagi setiap orang muslim tatkala menghadap Allah SWT. Yaitu, sesudah kematiannya.

Sejatinya pulalah, setiap muslim memiliki kesiapan yang lebih dalam bentuk amal saleh yang banyak untuk menghadapi kematian, kapan, dimana, dalam keadaan bagaimanapun.

Allah berfirman,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ اَحَدًا

Artinya, ‘Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, makahendaklah ia beramal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya. AI Kahf (18): 110.

Kain ihram yang berwarna putih juga menggambarkan bahwa seseorang yang menunaikan haji adalah orang yang datang menyahut panggilan Allah.

Karenanya harus dilakukan dengan khusyuk dan tawaduk serta menyerah diri kepada Allah seperti mayat (yang dikafankan dengan kain putih).

Menyadari hakikat tersebut, manusia sejatinya yang dipandang Allah bukan harta atau perhiasan zahirnya melainkan kebersihan hati dan takwa.

Perintah menanggalkan pakaian kemudian mengenakan kain ihram pada esensinya adalah perintah membuang sifatnya duniawi.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: