www.hajiakbar.com


MASALAH YANG SERING TIMBUL DAN CARA MENGATASINYA

oleh : H. Akbar

Setiap jemaah haji pasti bakal dihadapkan pada permasalahan. Permasalahan yang dialami tentu berbeda antara jemaah yang satu dengan yang lainnya. Bisa atau tidak bisanya mengatasi suatu masalah, semuanya akan bergantung kepada masing-masing jemaah dalam memecahkan masalah yang timbul. Pada umumnya masalah yang sering dialami oleh jemaah kita adalah :

1 – MUSIM

Arab Saudi berada pada daerah sub-tropis yang mempunyai empat musim. Namun karena wilayahnya berbentuk gurun pasir, yang paling terasa adalah musim panas dan musim dingin. Musim sering menjadi permasalahan bagi jemaah haji Indonesia, karena kedua musim tersebut tidak dikenal di Indonesia.

Jika musim haji jatuh pada musim panas, suhu di Mekah dan Madinah bisa mencapai 50 derajat Celsius yang akan mengakibatkan heat-stroke yaitu penyakit yang diakibatkan oleh kekurangan cairan tubuh. Penyakit ini bisa menimbulkan kematian. Kondisi semacam ini bisa diatasi dengan menggunakan payung saat bepergian dan selalu membawa semprotan air. Namun harus diingat bahwa panas bukan hanya ditimbulkan oleh cahaya matahari, tapi juga akibat dari pantulan lantai. Selain menimbulkan panas juga sangat menyilaukan mata. Untuk mengatasinya kita bisa memakai kacamata hitam.

Sementara kalau musim haji jatuh pada musim dingin, suhu di lapangan bisa kurang dari 10 derajat Celsius yang akan mengakibatkan rasa gatal pada kulit, kulit kasar seperti bersisik, mimisan, dan ujung jari kaki berdarah. Dalam keadaan demikian, jemaah haji dianjurkan untuk menggunakan obat-obatan seperti vaselin.

Yang tidak boleh diabaikan adalah setiap jemaah haji mempunyai ketahanan fisik yang berbeda. Setiap jemaah lebih mengetahui ketahanan fisiknya masing-masing. Jika jemaah terbiasa menggunakan obat tertentu, bawalah dari tanah air. Jangan mengandalkan obat-obatan dari petugas kesehatan, sebab selain jumlahnya terbatas terkadang obat yang biasa dipakai jemaah belum tentu ada.

2 – JUMLAH JEMAAH HAJI

Jumlah kaum muslimin yang menunaikan ibadah haji setiap tahun selalu meningkat. Rata-rata setiap musim haji berkisar 2 jutaan orang datang mengunjungi Baitullah untuk berhaji. Pada saat berkumpul di satu tempat, seperti Masjidil Haram, Arafah, atau Mina akan menimbulkan kepadatan yang terkadang menjadi kendala besar bagi jemaah haji. Diantaranya : Padatnya jemaah yang melaksanakan thawaf pasti berakibat saling berdesakan dan saling himpit, terutama di antara Rukun Yamani dan Rukun Hajar Aswad (tempat memulai dan mengakhiri thawaf). Jika jemaah tidak mempunyai ketahanan fisik yang prima bisa pingsan di tempat thawaf. Hal ini bisa diatasi dengan cara memilih waktu ketika di sekitar ka’bah sedang tidak terlalu padat, atau memilih lantai dua atau tiga untuk thawaf meskipun jaraknya lebih panjang. Dari pengamatan di lapangan bisa diketahui bahwa jemaah yang melakukan thawaf tidak terlalu padat saat orang-orang Arab sedang beristirahat makan sekitar menjelang zhuhur meskipun terik matahari sangat terasa panas. Dalam kondisi normal, melaksanakan thawaf tujuh putaran memakan waktu sekitar 1 jam, tetapi pada saat melaksanakan thawaf ifadlah rata-rata baru bisa diselesaikan dalam jangka waktu 2 sampai 3 jam. Demikian juga untuk sa’i. Karena padatnya jemaah yang melaksanakan sa’i, terkadang seluruh pintu Masjidil Haram di jalur mas’a ditutup. Kalaupun ada yang dibuka itupun harus melalui jembatan yang melintasi jalur sa’i.

3 – KEMAMPUAN BERBAHASA

Kaum muslimin yang menunaikan ibadah haji datang dari berbagai penjuru dunia dengan bahasanya masing-masing. Kalau kita ingin memanfaatkan momentum berkumpulnya manusia dan inginmengetahui perkembangan dunia lainnya, diperlukan kemampuan berbahasa. Bahasa yang paling populer digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari adalah bahasa Arab, Inggris, dan Perancis. Dengan menguasai ketiga bahasa tersebut, atau salah satu diantaranya akan lebih memudahkan mengatasi permasalahan yang timbul. Banyaknya jemaah yang tersesat, kesulitan mencari alamat, dan mahalnya harga kebutuhan bisa diakibatkan karena ketidakmampuan berkomunikasi dengan orang lain. Manfaat lain dari kemampuan berbahasa adalah jemaah dapat mengetahui materi ta’lim yang diselenggarakan oleh beberapa kelompok masyarakat yang umumnya menggunakan salah satu dari tiga bahasa tadi. Cara yang terbaik adalah dengan mempelajari bahasa-bahasa tadi menjelang keberangkatan ke tanah suci. Minimal menguasai bahasa populer sehari-hari.

4 – PENGETAHUAN TENTANG MEKAH DAN MADINAH

Jemaah haji akan dihadapkan pada kenyataan bahwa kota Mekah dan Madinah sangat berbeda dengan kota kelahiran kita. Selama perjalanan menunaikan ibadah haji, setiap jemaah akan tiggal di Mekah sekitar satu bulan dan sisanya di Madinah. Di kedua kota tersebut jemaah harus bisa mengenali lokasi maktab dengan baik. Paling tidak, jemaah harus mempunyai patokan dengan mengenali salah satu tanda yang bisa mengingatkannya terhadap maktab tempat tinggalnya. Tanda tersebut bisa pada arah pintu keluar Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, atau tanda lain di luar masjid seperti hotel, istana raja, bangunan pertokoan dan lain sebagainya. Jika jemaah tidak mengenali tanda-tanda tersebut bisa tersesat jalan. Untuk mengatasi jika jemaah tersesat, jemaah dianjurkan selalu membawa tanda pengenal atau alamat maktab yang biasanya tercantum pada kartu yang diberikan kepada setiap jemaah.

5 – PENGETAHUAN TENTANG SEJARAH ISLAM

Mekah dan Madinah adalah dua kota penting dalam sejarah Islam. Di kota inilah Rasulullah SAW dilahirkan dan mendirikan pemerintahan Islam pertama di dunia serta menyebarkan Islam ke seluruh pelosok dunia. Peninggalan-peninggalan bersejarah tentang keemasan Islam, baik yang tercantum dalam Al-Quran maupun Hadits tersebar luas di kedua kota ini. Jemaah haji yang mempunyai pengetahuan tentang sejarah Islam akan dapat meningkatkan keimanan dan kepedulian terhadap Islam setelah melihat medan berat yang dialami Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Jemaah akan lebih khusyu’ dalam berdoa manakala mengetahui bahwa tempat ia bedoa merupakan tempat penting dalam penyebaran agama Islam. Agar perjalanan haji lebih bermakna, seygyanya jemaah menginventarisasi tempat-tempat penting yang akan dikunjungi, baik yang berada di Mekah maupun Madinah.

6 – PENGETAHUAN TENTANG HAJI

Yang paling penting harus diperhatikan dari sekian banyak permasalahan yang sering timbul adalah pengetahuan tentang haji. Meskipun setiap jemaah mempunyai pembimbing, pada kondisi tertentu amat boleh jadi seorang jemaah lepas dari pembimbingnya. Jika jemaah yang lepas dari pembimbingnya mempunyai pengetahuan dan menguasai manasik haji tentu tidak akan menambah beban bagi jemaah tersebut. Ia dapat melakukannya sendiri tanpa harus disertai pembimbing. Selain daripada itu, jika jemaah ingin menambah nilai ibadah dengan melakukan ibadah sunat, seperti thawaf sunat dan berdoa di tempat tertentu tidak harus selalu diantar oleh pembimbing.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: